ARTI, HAKEKAT, TUJUAN, UNSUR, SIFAT DAN BENTUK KOMUNITAS UMAT BASIS

Dipublikasikan pada 26 August 2026

Pengumuman

A.    Pengertian Komunitas Umat Basis

      Komunitas Umat Basis merupakan persekutuan umat beriman kristiani yang relatif kecil, 10-20 keluarga katolik secara berkala Bertemu (seminggu sekali). Disitu mereka saling mengenal dan tinggal berdekatan. Mereka bersama-sama berdoa, membaca Kitab Suci, mengadakan sharing iman berdasarkan Sabda Tuhan yang direnungkan, dan membicarakan masalah nyata keseharian yang dihadapi, dan merayakan ekaristi. Dengan terang Kitab Suci, mereka mencari solusi dan mengadakan aksi nyata bersama-sama dalam pelayanan kasih sebagai pencerminan kasih Tritunggal Yang Mahakudus. Dalam kesatuan dengan umat dari Komunitas Basis lainnya, Lingkungan/Stasi, Paroki, Keuskupan serta gereja universal dan dipimpin oleh gembala-gembala yang syah, persekutuan umat int bahu-membahu memperjuangkan pembebasan, pemberdayaan dan terbuka untuk merangkul saudara yang beriman lain.

B.  Hakekat Komunitas Umat Basis

 Komunitas Umat Basis pada hakekatnya adalah:

1.      Basis Gereja Setempat, yaitu satuan umat yang relatif kecil, terdiri atas 10 sampai 20 keluarga bertetangga. Anggota-anggota Komunitas Umat Basis saling mengenal. Mereka berkumpul secara berkala untuk mendengarkan Firman Allah, berbagi masalah-masalah hidup harian dan bersama-sama pula mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci.

2.      Basis Masyarakat Setempat.

Semua orang dan keluarga-keluarga yang menetap dalam komunitas itu, baik warga asli maupun pendatang, baik yang oleh masyarakat diakui memiliki status sosial tinggi maupun rendah, yang kaya ataupun yang miskin, semuanya mendapat penilaian dan perlakuan yang sama, karena semuanya setara dan sederajat. Meskipun berbeda ras, golongan, ataupun asal budaya setiap orang adalah saudara satu sama lain.

3.      Basis Kerasulan.

Di dalam Komunitas Umat Basis orang Kristen secara pribadi mengalami kebersamaan dan karena itu merasakan bahwa dia sedang memainkan suatu peranan yang aktif dan didorong untuk ikut ambil bagian dalam tugas bersama. Maka, Komunitas- komunitas ini menjadi sarana penginjilan dan pewartaan awal injil, dan merupakan sumber pelayanan - pelayanan yang baru. Pada saat yang sama karena dilengkapi dengan cinta Kristus. mereka juga memperlihatkan bagaimana perpecahan- perpecahan masalah kesukuan dan rasisme dapat diatasi." (Redemptoris Missio, No. 51 alinea 2).

4.      Basis Pemberdayaan Umat Awam.

Dikatakan demikian karena dalam lingkungan Komunitas Umat Basis itu awam berada, hidup dan berkarya. Disitu para awam diposisikan kembali pada tempatnya untuk menyandang tugas menghidupi injil di lingkungan hidupnya dan menyanggah kehidupan gereja. Dalam Komunitas Umat Basis setiap orang mempunyai bagian untuk dibagıkan (sharing) bagi kepentingan bersama

5.      Basis Kesatuan.

Karena sifatnya yang tidak tertutup (eksklusif) dan membeda- bedakan (diskriminatif) maka Komunitas Umat Basis merangkul semua keluarga, anak-anak, kaum muda, orang tua dan umat siapapun dan menghargai perbedaan dan keragaman anggota- anggota Dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat gereja yang lebih luas Komunitas Umat Basis bukanlah satu gereja alternatif melainkan adalah bagian integral (tak terpisahkan) dari Lingkungan/Stası, Paroki, Kevikepan, Keuskupan dan Gereja sejagat.

6.      Fokus, Lokus dan Subyek Pastoral. Dengan ungkapan ini dimaksudkan bahwa pusat perhatian (fokus) dan tempat pelayanan pastoral (lokus) haruslah terjadi pada dan dalam Komunitas Umat Basis. Di situ semua anggota tanpa terkecuali menjadi pelaku (subyek) pelayanan pastoral gereja. Dengan fokus dan lokus pastoral semacam ini tidak dimaksudkan semua pelayanan pastoral (a.l. pelayanan sakramen seperti ekaristi) harus hanya terjadi di dan pada Komunitas Umat Basis.

C.  Tujuan Komunitas Umat Basis

1.       Mengembangkan dan menghidupkan cara baru hidup bergereja untuk mewartakan Sabda Tuhan, menguduskan umat dan melayanı kebutuhan serta mempersatukan umat dengan Allah dan sesama sehingga mereka sanggup menjadi saksı Kristus di tengah dunia.

2.       Membebaskan dan memberdayakan umat agar sanggup membebaskan diri dari pelbagai situasi yang membuatnya kehilangan orientasi, cintakasih dan harapan.

3.       Membangun Gereja agar mandiri dalam iman, personal dan material.

4.       Mengekspresikan secara nyata kehidupan Gereja Kristus yang universal sebagai perwujudan Kerajaan Allah melalui penghayatan nilai-nilai kebenaran, keadilan, perdamaian dan cintakasih.

D.  Unsur Dasar Komunitas Umat Basis

Komunitas Umat Basis sebagai persekutuan Gereja Allah melalui Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus memiliki unsur-unsur dasar:

1.       Persekutuan. Satu Komunitas Umat Basis tidak memisahkan diri dari Komunitas Umat Basis lainnya, dari Lingkungan/Stasi, Paroki, Keuskupan dan Gereja Sejagat.

2.       Sabda Allah. Dalam Komunitas Umat Basis anggota mengadakan sharing iman berdasarkan Sabda Tuhan yang direnungkan dan dalam terang Kitab Suci pula mereka mencari solusi dan mengadakan aksi nyata bersama-sama dalam pelayanan kasih sebagai pencerminan kasih Tri Tunggal Yang Mahakudus.

3.       Pastoral. Setiap Komunitas Umat Basis berada dalam persatuan yang nyata dengan gembala-gembala syah. Kesatuan komunitas- komunitas dalam Gereja Universal tampak dan terjelma dalam diri Uskup.

4.       Perjuangan. Komunitas Umat Basis berjuang mengembangkan hidup seutuhnya dalam kehadiran Allah. Dalam semangat solidaritas kristiani anggota-anggota Komunitas Umat Basis membicarakan masalah kehidupan yang dihadapi, mencari solusinya dan bersama menjalankan aksi nyata demi hidup yang lebih baik dan lebih berdaya. Perhatian ini secara khusus ditujukan bagi yang miskin dan terpinggirkan.

E.  Sifat-sifat Komunitas Umat Basis

1.      Trinitaris. Persekutuan umat beriman yang tinggal dan hidup dalam kelompok kecil yang dijiwai dan dihidupkan oleh Tritunggal Mahakudus, Disitu umat saling mengenal, saling mengasihi dan hidup dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.

2.       Kristiani. Hidup dalam prinsip-prinsip dasar kekristenan yakni kekudusan, cinta dan pelayanan, doa dan Kitab Suci serta dijiwai semangat misioner.

3.       Kharismatis. Dituntun oleh iman yang hidup dan benar menurut ajaran gereja yang syah, Komunitas Umat Basis mengembang- kan, memberdayakan dan memanfaatkan berbagai karunia, bakat dan kemampuan yang ada pada setiap anggota agar setiap orang hidup menurut panggilannya dalam membangun diri dan sesama.

4.       Terbuka. Sebagai bagian dari masyarakat luas, Komunitas Umat Basis melibatkan diri dalam pergumulan masyarakat diluar komunitasnya dan tidak menutup mata terhadap pelbagai masalah yang terjadi untuk mewujudkan masyarakat baru yang lebih adıl, lebih manusiawi dan lebih damai.

5.       Profetis. Komunitas Umat Basis memperjuangkan keadilan, membela kaum tertindas dan memainkan peran mediasi dalam aneka konflik yang direkayasa oleh kaum elit. Kehidupan iman dan keseharian disatupadukan. Sifat martiria ini menghantar anggota Komunitas Umat Basis kepada sikap sosial dan sekaligus melampaui batas karya sosial.

F.   Bentuk Komunitas Umat Basis

Komunitas Umat Basis mengambil bentuk teritorial yakni komunitas yang berdasarkan kedekatan tempat tinggal dan hidup bertetangga serta memiliki kepentingan bersama sebagai umat Allah.

Namun dalam kenyataan terdapat lagi berbagai kelompok yang dibentuk menurut kharisma, fungsi dan profesi yang sama, seperti Legio Maria, Santa Anna, Wanita Katolik, Pemuda Katolik, Komunitas Para Guru, Komunitas Para Pegawai, Komunitas Biara dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok ini adalah kelompok-kelompok kategorial. Tetapi sebagai pribadi mereka bertempat tinggal pada suatu Komunitas Umat Basis tertentu. Karena itu setiap mereka adalah anggota Komunitas Umat Basis itu. Mereka hendaknya menyumbangkan kharisma kelompoknya untuk kehidupan Komunitas Umat Basis.